Sunday, October 11, 2009

Review : Le Grand Voyage


Cihuuy...Kemaren hari Sabtu, abis ditraktir temen yang ultah di Pizza Hut DP MALL, kenyang gila...astagfirullah...trus pulangnya kita rencana mau pinjem film, sebenernya dia deng yg mau nebeng pinjem di L****t, rental vcd/dvd deket rumah, sempet bingung, cari2 karena gak ada rencana mau minjem.'wah mau pinjem apaan ya??' secara aku gak pernah lihat/baca2 review tentang movie lately, maklum masuk stase Obsgyn jadi gak tau perkembangan dunia..sibuk gak jelas di ko-ass! Tadinya mau pinjem film horornya Thailand, sesuai rekomendasinya temenku yg bilang katanya bagus, judulnya 4bia, tapi sayang lagi keluar, mmm, judul satunya ah..Shutter, eh dipinjem juga! uuh..Daaan...mataku pun tertumbuk di tumpukan film2 yg biasanya tak kusentuh...intinya adalah akhirnya aku menemukan film yg berjudul Le Grand Voyage, agak tertegun juga ngeliat covernya, kok kayaknya ada hubungannya dengan Islam-Mekkah tp kok film prancis...mungkin bagus juga, semoga dapat inspirasi apa gitu, biar hidupku agak sedikit tercerahkan
****
Review :
Hmm, aku gak tau ya, berhubung aku bukan pengamat film, cuma penikmat saja.. judulnya aja aku gak tau artinya apa..ceritanya tentang seorang pria imigran Prancis keturunan Arab - Maroko yg berniat menunaikan haji, tapi tidak seperti cara orang kebanyakan, dia memilih untuk berhaji dengan menggunakan jalan darat, dengan mobil, yg kalau diukur kira2 5000 km jauhnya dari Mekkah sono. Berhubung dia nggak mungkin nyetir sendirian, dan anak tertuanya yang sedianya jadi sopirnya ternyata ada 'masalah' sehingga SIMnya disita, mau tak mau, terpaksa, Reda, anak laki2 keduanya yang harus nemenin sang Ayah. Dengan berat hati, dia manyanggupi permintaan ayahnya, meskipun harus bolos sekolah, yang tambah bikin berat, dia harus ninggalin ceweknya, Lisa. Jadilah, sepanjang perjalanan itu pikirannya dipenuhi tentang pacarnya. Mana sang Ayah kesaannya ngeselin banget, otoriter, sok ngatur dan sering tidak sependapat dengannya, walau kadang ayahnyalah yg benar. Namun, perjalanan itu lambat laun mendekatkan mereka, dan menghancurkan tembok yang selama ini ada di antara mereka. Suatu saat, saat mereka sedang berlindung di tengah dinginnya salju kota Bulgaria, sang anak memberanikan diri bertanya" ayah, kenapa sih kau tidak pergi naik pesawat saja, kan lebih praktis?"
sang ayah menjawab " air laut yang sudah menguap di udara , rasanya sudah tidak asin lagi, tidak murni lagi. Jadi Lebih baik berjalan kaki dari pada naik keledai, lebih baik naik keledai daripada naik mobil, lebih baik naik mobil daripada naik kapal terbang.." sang anak pun ngannguk2 mengerti ( aku tidaakk!! )
Ada lagi saat2 mereka menginap dihotel, dan karena kelengahan si anak, uang sangu yang sisimpan sang ayah raib. Dan sang Ayah pun berang karena sang anak lengah karena melanggar syariat dengan meminum alkohol sampai mabuk.
Nah, tampaknya kisah-kisah di sepanjang perjalanan inilah yang ingin ditonjolkan oleh sang pembuat film. selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. tidak penting bagaimana sang ayah saat di Mekkah nanti. jelas, ini bukan film religi seperti film Para Pencari Tuhannya Deddy Mizwar yang menyelipkan wejangan-wejangan di sepanjang film, dan akhirnya seseorang mendapat hidayah atau seperti film Hidayah yang memberikan azab pada pelaku kemunkaran. Adegan-adegan di sekitar Kota Mekkah dan di sekitar Masjidil Haram pun dilukiskan biasa saja, padahal bagi umat muslim melihat Ka'bah adalah suatu pengalaman spiritual yang ternilai harganya. Saat sang ayah tak kunjung kembali dan sang anak mencari di antara jutaan jamaah haji lainnya, pun terasa semuanya seperti hanya latar belakang saja. tidak ada backsound dramatis walaupun subhanallah... jutaan manusia tumpah ruah di tempat yang sama. Dan walaupun sempat sang anak bertanya pada sang ayah tentang tujuannya naik haji ( weleh2, kebangetan banget sih anak ini-kudu hati2 kalo anknya gak pernah ditanamkan nilai2 agama jadi gini nih), sikap anaknya yang tak tergerak hatinya untuk paling enggak ingin tahulah, tentang agamanya lebih jauh atau malah mungkin tobat, membuat hati ini miris. Tapi lagi2 ini kan bukan film religi. Endingnya pun menurutku sangat antiklimaks. Sepertinya para penonton diberi kebebasan untuk menginterpretasikan inti dari cerita ini, sampai sekarangpun aku belum tau apa maksudnya. Lumayanlah, kalo kita melihat dari sisi non religi-gak ngerti lah aku, opo jenenge..

No comments: